Membuat Proxmox Cluster dengan 3 Node
Pada hari ini saya ditugaskan untuk melakukan training proxmox. Proxmox Virtual Environment (VE) adalah platform virtualisasi open-source berbasis Debian Linux untuk mengelola mesin virtual (VM) via KVM dan kontainer (LXC) dalam satu antarmuka web. Jika Anda merupakan pelaku usaha maupun perorangan yang membutuhkan solusi virtualisasi modern untuk server, Anda dapat mengunjungi website PT. Excellent Infotama Kreasindo untuk mendapatkan dukungan dari tenaga ahli yang berpengalaman dalam layanan Proxmox Virtual Environment.
Dalam infrastruktur virtualisasi modern, penggunaan cluster sangat membantu untuk mempermudah pengelolaan server. Jika kita memiliki beberapa server yang menjalankan Proxmox Virtual Environment, akan jauh lebih efisien jika semuanya digabung menjadi satu sistem manajemen.
Dengan menggunakan cluster, kita bisa:
- Mengelola semua node dari satu dashboard
- Melakukan live migration VM
- Monitoring resource seluruh server dalam satu tempat
- Menambahkan storage bersama untuk kebutuhan production
Pada percobaan ini saya membuat cluster Proxmox dengan 3 node. Tiga node ini merupakan konfigurasi minimal yang ideal karena sistem quorum tetap stabil walaupun satu node mengalami masalah.
1. Topologi Cluster
Topologi yang saya gunakan cukup sederhana. Semua server berada dalam satu network yang sama.
Network
- Network : 192.168.14.0/24
Node pada Cluster
- Node 1
- Hostname : rafi1
- FQDN : rafi1.local
- IP Address : 192.168.14.21
- Node 2
- Hostname : rafi2
- FQDN : rafi2.local
- IP Address : 192.168.14.22
- Node 3
- Hostname : rafi3
- FQDN : rafi3.local
- IP Address : 192.168.14.23
Singkatnya node yang saya gunakan:
Node | Hostname | IP Address
Node 1 | rafi1.local | 192.168.14.21
Node 2 | rafi2.local | 192.168.14.22
Node 3 | rafi3.local | 192.168.14.23
Ketiga server ini sudah terinstall Proxmox Virtual Environment dan berada dalam jaringan yang sama.
2. Konfigurasi /etc/hosts
Agar setiap server bisa saling mengenali hostname satu sama lain, saya menambahkan konfigurasi berikut di file /etc/hosts pada semua node.
192.168.14.21 rafi1.local rafi1
192.168.14.22 rafi2.local rafi2
192.168.14.23 rafi3.local rafi3
Edit file tersebut menggunakan:
# nano /etc/hosts
Setelah disimpan, saya biasanya memastikan konektivitas antar node sudah berjalan dengan baik.
Lakukan pengecekan dengan menggunakan ping
Jika semua node bisa saling ping tanpa masalah, berarti konfigurasi hostname sudah benar.
3. Membuat Cluster di Node Pertama
Cluster pertama kali dibuat dari satu node. Dalam kasus ini saya menggunakan rafi1 sebagai node utama.
Login ke server:
ssh root@192.168.14.21
Kemudian jalankan perintah berikut:
# pvecm create rafi-cluster
Perintah ini akan membuat cluster baru dengan nama rafi-cluster.
Untuk memastikan cluster sudah terbentuk, saya cek statusnya dengan:
pvecm status
Biasanya akan muncul informasi bahwa cluster memiliki 1 node, yaitu rafi1.
4. Menambahkan Node Kedua
Setelah cluster dibuat, langkah berikutnya adalah menambahkan node kedua yaitu rafi2.
Login ke server rafi2:
# ssh root@192.168.14.22
Kemudian jalankan:
# pvecm add 192.168.14.21
IP yang digunakan adalah IP node pertama yang membuat cluster.
Saat proses ini berjalan, sistem akan meminta password root dari rafi1. Setelah berhasil, rafi2 akan otomatis bergabung ke cluster.
Untuk mengecek apakah node sudah masuk ke cluster, saya menjalankan:
# pvecm nodes
Jika berhasil, akan muncul dua node di dalam cluster.
5. Menambahkan Node Ketiga
Langkah yang sama saya lakukan untuk node ketiga yaitu rafi3.
Login ke server:
# ssh root@192.168.14.23
Kemudian jalankan:
# pvecm add 192.168.14.21
Masukkan password root dari rafi1.
Setelah selesai, cluster sekarang memiliki tiga node.
Cek kembali dengan:
# pvecm nodes
Output
6. Verifikasi Cluster
Untuk memastikan semuanya berjalan normal, saya mengecek status cluster dengan:
# pvecm status
Dapat dilihat informasi seperti:
- Nodes: 3
- Quorum: 2
Artinya cluster sudah berjalan normal dan tetap stabil walaupun satu node mati.
7. Mengakses Cluster dari Web Interface
Setelah cluster selesai dibuat, semua node akan muncul dalam satu dashboard.
Web interface Proxmox bisa diakses melalui browser:
https://192.168.14.21:8006
https://192.168.14.22:8006
https://192.168.14.23:8006
Setelah login, di sidebar akan muncul struktur seperti ini:
Datacenter
├── rafi1
├── rafi2
└── rafi3
Sekarang kita bisa:
- Membuat VM di node mana saja
- Monitoring resource semua server
- Melakukan migrasi VM antar node
- Mengelola storage cluster
Semua dilakukan dari satu dashboard saja.
8. Best Practice Cluster Proxmox
Beberapa hal yang biasanya saya baca dan perhatikan saat membuat cluster Proxmox.
a. Gunakan jumlah node ganjil
Contohnya:
- 3 node
- 5 node
- 7 node
Ini membantu menghindari masalah split brain pada cluster.
b. Gunakan network khusus cluster
Dalam environment production biasanya dipisahkan antara:
- Management network
- Cluster network untuk Corosync
c. Gunakan shared storage
Contoh storage yang sering digunakan:
- NFS
- Ceph
- iSCSI
Shared storage memungkinkan fitur seperti:
- Live migration
- High Availability VM
Akhir Kata
Dengan menggabungkan beberapa server menggunakan fitur cluster dari Proxmox Virtual Environment, kita bisa mengelola seluruh infrastruktur virtualisasi dengan jauh lebih mudah.
Pada percobaan ini saya menggunakan tiga node
Setelah semuanya bergabung ke cluster, ketiga server tersebut muncul dalam satu datacenter dan dapat dikelola dari satu dashboard.
Konfigurasi cluster seperti ini menjadi fondasi untuk setup yang lebih lanjut seperti shared storage, live migration, dan high availability di lingkungan virtualisasi.
Comments
Post a Comment